Bengkel DA'I Ittihadul Muballighin Pekanbaru: Khutbah Harus Terencana, Jamaah Kritis Tuntut Materi B

 

PEKANBARU, http://seputarriau.co — Era digital menuntut para dai dan muballigh untuk terus meningkatkan kapasitas ilmu dan metode dakwah. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan "Bengkel Dai & Muballigh" yang digelar DPD Ittihadul Muballighin Kota Pekanbaru, Ahad (24/10/2026).

Acara ini dimoderatori oleh Ustadz Sarwan Kelana, S.Ud, Ketua Ittihadul Muballighin Kota Pekanbaru.

"Kegiatan "Bengkel Dai" ini merupakan upaya Ittihadul Muballighin Kota Pekanbaru untuk melakukan transformasi dan peningkatan kualitas dakwah di masjid dan musholla. Tujuannya agar pesan Islam dapat disampaikan dengan cara yang bijak, mencerahkan, dan solutif bagi umat", tutup Ustadz Sarwan Kelana.


Kegiatan yang diikuti para dai masjid dan musholla se-Kota Pekanbaru itu menghadirkan Buya H. Irwan Suanto, Lc., M.Pd., M.M sebagai pemateri. Buya Irwan saat ini menjabat Ketua Dewan Pakar Ittihadul Muballighin Kota Pekanbaru, Ketua Perti Pekanbaru, Ketua Umum Forum Komunikasi Pondok Pesantren Pekanbaru, sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhwan Pekanbaru.  

Mengusung tema "Manajemen Khutbah dan Etika Berdakwah", Buya Irwan menegaskan bahwa karakter jamaah saat ini sudah jauh lebih kritis dan melek informasi. Karena itu, dai tidak cukup hanya mengulang-ulang ayat dan materi yang sama.

"Hari ini umat butuh dai yang up-to-date Ayatnya boleh sama, misalnya tentang amar ma'ruf nahi munkar, tetapi sudut pandang dan materi penyampaiannya harus diperluas dan relevan dengan persoalan umat hari ini," tegas Buya Irwan.

Ia mengingatkan, dakwah memiliki tiga pilar utama yang tidak boleh ditinggalkan: hikmah mau'idzah hasanah, dan mujadalah bil lati hiya ahsan. Selain itu, seorang dai wajib menjaga integritas.  

"Allah berfirman, 'Ya ayyuha alladzina amanu lima ta'uluna ma la taf'alun'. Seorang dai harus mempertanggungjawabkan setiap yang disampaikannya. Beban moralnya sangat besar, baik di dunia maupun di akhirat," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Buya Irwan juga mengajak para muballigh menerapkan prinsip manajemen modern ala Henry Fayol dalam berdakwah: Planning, Organizing, Actuating, Controlling. Mulai dari merencanakan tema dan tujuan, menyusun sistematika, menyampaikan dengan retorika yang tepat sasaran, hingga melakukan evaluasi.

Untuk khutbah Jumat, ia memberikan beberapa tips praktis. Durasi ideal khutbah adalah 15-20 menit. Judul dan ayat rujukan harus sinkron, serta dipahami tafsir dan asbabun nuzulnya. Pembukaan harus menarik agar jamaah tetap fokus. Dai juga perlu "membunglon secara positif" menyesuaikan gaya dengan karakter jamaah di masjid tersebut.

"Jangan hanya mengandalkan cerita dan humor tanpa dasar ilmu. Perbanyak membaca tafsir, sirah nabawiyah, dan literatur ilmiah. Kaitkan pesan Al-Qur'an dan sunnah dengan realitas sosial umat hari ini," pesan Buya Irwan.

(MN) 
 


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar